Humas IAIN Parepare- Sebanyak 1.148 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 37 Tahun 2026 resmi ditarik kembali oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare usai merampungkan masa pengabdian di berbagai pelosok, yang disambut meriah lewat ajang Expo Hasil Pengabdian di Auditorium, Rabu (02/09/26).
Ajang ini sekaligus menjadi etalase gemilang untuk merefleksikan jejak kontribusi nyata mahasiswa, di mana seluruh program kerja dirancang melampaui batas kewajiban akademik demi menciptakan solusi konkret yang langsung dirasakan oleh warga.
Gelombang apresiasi hangat mengalir deras dari jajaran pemerintah daerah dan kecamatan, yang menilai kehadiran para mahasiswa sukses menghadirkan energi segar melalui gerakan kebersihan, syiar keagamaan, hingga inovasi digital desa.
Kepala Desa Pattirolokka, Wahyudin, yang mewakili suara para kepala desa di Kecamatan Keera, Kabupaten Wajo, melontarkan pujian atas dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh para mahasiswa KKN IAIN Parepare di wilayahnya.
Ia mengungkapkan kekagumannya lantaran program-program yang dieksekusi jauh dari kesan seremonial belaka, melainkan menyuguhkan keberlanjutan fungsional yang siap diteruskan oleh warga desa setelah masa pengabdian usai.
"Program-program yang dilaksanakan mahasiswa KKN IAIN Parepare sangat kami apresiasi karena berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Wahyudin dengan penuh antusias.
Deretan program unggulan yang sukses memikat hati warga meliputi pemetaan desa berbasis teknologi Geographic Information System (GIS), aksi rutin Jumat Bersih, hingga penyelenggaraan yasinan malam Jumat yang mempererat kebersamaan.
Tidak lupa, Wahyudin melayangkan rasa terima kasih mendalam kepada Rektor IAIN Parepare atas kepercayaan menempatkan mahasiswanya di Kecamatan Keera, serta berharap sinergi strategis ini terus berlanjut di masa depan.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Parepare, Muhammad Majdy Amiruddin, melaporkan bahwa ribuan mahasiswa tersebut tersebar secara merata di 83 posko pengabdian yang berbeda.
Selama kurang lebih satu bulan berproses, penugasan ini melibatkan ekosistem kolaborasi yang solid antara dosen pembimbing lapangan (DPL), birokrasi pemerintahan level kecamatan hingga desa, serta sambutan hangat masyarakat setempat.
Ketua LP2M turut memberikan penghormatan khusus kepada para DPL dan jajaran pemerintah daerah yang senantiasa mendampingi, mengarahkan, serta memberikan ruang seluas-luasnya bagi kreativitas mahasiswa di lokasi penempatan.
Capaian paling membanggakan dari KKN tahun ini adalah lahirnya produk-produk inovasi aplikatif yang dirancang untuk hidup dan berkembang melampaui batas waktu penugasan mahasiswa di lokasi.
Di antara karya monumental tersebut adalah peta desa digital berstandar GIS, teknologi tungku api bebas asap, video profil desa yang estetis, hingga cetak biru pengembangan rintisan desa wisata.
Inovasi-inovasi ini merefleksikan semangat besar mahasiswa dalam meninggalkan legacy atau warisan abadi, yang selaras dengan nilai-nilai luhur kemerdekaan serta momentum Maulid Nabi dalam menebar kebaikan.
“Karena itu, KKN bukan hanya tentang hadir selama satu bulan, tetapi bagaimana mahasiswa mampu meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat,” ungkap Majdy.
Puncak penyambutan dilakukan langsung oleh Rektor IAIN Parepare, Prof. Hj. Darmawati, yang secara resmi menerima kembali seluruh kontingen dari beragam skema KKN, mulai dari internasional, Nusantara, mandiri, reguler, hingga desa binaan.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan rasa terima kasih kepada para camat, kepala desa, pemerintah daerah, serta para sponsor yang telah menjadi bagian penting dari suksesnya KKN Angkatan 37 Tahun 2026.
Menurut Rektor, tolok ukur kesuksesan KKN sama sekali bukan diukur dari tumpukan laporan atau estetika dokumentasi, melainkan seberapa dalam mahasiswa mampu menyelami realitas kehidupan masyarakat.
“Jangan hanya sekadar mengumpulkan laporan atau foto kegiatan. KKN itu adalah belajar ilmu kehidupan, bagaimana kita menyentuh hati masyarakat,” tegas Rektor penuh penekanan.
Ia mengingatkan bahwa esensi perguruan tinggi yang besar terletak pada seberapa besar kehadiran civitas akademiknya dirasakan sebagai solusi atas problem riil di tengah-tengah denyut kehidupan warga.
Lebih jauh, Rektor memotivasi para mahasiswa agar bertransformasi menjadi jembatan aspirasi yang peka, sigap menyuarakan berbagai kendala infrastruktur maupun pembangunan desa kepada pihak berwenang. Pengalaman berharga selama sebulan di desa diyakini akan menjadi modal sosial paling berharga bagi mahasiswa untuk tumbuh menjadi intelektual yang peduli dan solutif.
Penulis: Nur Aeny
Editor: Mifda Hilmiyah





