Skip ke Konten

Setia pada Proses, Kisah Inspiratif Prof. Iskandar Meraih Puncak Akademik Guru Besar IAIN Parepare

13 Juli 2026 oleh
Setia pada Proses, Kisah Inspiratif Prof. Iskandar Meraih Puncak Akademik Guru Besar IAIN Parepare
Humas IAIN Parepare
Humas IAIN Parepare – Suasana penuh khidmat dan kebahagiaan menyelimuti civitas academica Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare.  Iskandar, Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Parepare secara resmi menghadiri acara penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri Agama tentang Pengangkatan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama yang digelar megah di Ballroom Hotel Mercure, Jakarta, pada Senin (13/07/2026).

Saat diwawancara, profesor baru yang dikenal ramah dan humoris ini tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. "Alhamdulillah, saya merasa bersyukur dan sangat senang setelah menerima KMA Guru Besar saya. Sekaligus ini menjadi amanah untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu dakwah di IAIN Parepare dan masyarakat," ungkapnya penuh haru.

Di balik gelar prestisius yang kini melekat pada namanya, sosok yang juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik FUAD IAIN Parepare ini secara bersahaja mengakui bahwa gelar ini bukanlah target personal yang dikejarnya sejak lama. "Sejak awal saya tidak bercita-cita untuk menjadi Guru Besar, saya hanya berusaha setia pada proses, terus belajar, meneliti bersama dengan kolega dan teman-teman dosen, dan mengabdi," kenang Prof. Iskandar.
Dari keteguhan mengejar proses itulah, ia memetik sebuah esensi spiritual yang mendalam. "Seiring perjalanan ini, saya menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat mengantarkan pada pencapaian yang besar. Bagi saya, Guru Besar bukan garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberi manfaat bagi sesama," jelasnya.

Keberhasilan menembus puncak karier akademik ini diakuinya sebagai buah dari doa dan teladan orang-orang terkasih, terutama keluarga dan mentor akademiknya. "Orang paling berpengaruh dalam pencapaian Guru Besar saya adalah tentu kedua orang tua dan para guru saya," tegasnya. Nilai-nilai kehidupan yang mengakar kuat dalam dirinya diserap dari lingkungan terdekat tersebut. "Dari orang tua, saya belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan kerja keras. Sedangkan dari para guru, saya diajarkan bahwa kecerdasan harus seiring berjalan dengan kerendahan hati, sebab ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan dan memberi manfaat kepada semua orang," tuturnya.

Sebagai seorang dosen, Prof. Iskandar memiliki formula tersendiri dalam menyikapi beban Tridarma Perguruan Tinggi yang kerap dikeluhkan waktu pelaksanaannya. Kunci keberhasilannya terletak pada manajemen prioritas dan melihat ketiga aspek tersebut sebagai kesatuan integral yang saling menguatkan. "Bagi saya, kuncinya bukan mencari waktu, tetapi mengelola prioritas. Saya berusaha mensinergikan Tridarma: pengalaman mengajar melahirkan ide penelitian, penelitian memperkaya pengabdian, dan pengabdian kembali menyempurnakan pembelajaran," paparnya. Ia mengibaratkan ekosistem kerja ini dengan sebuah analogi yang sangat indah: "Mengajar adalah menanam, meneliti adalah merawat, dan pengabdian adalah memetik manfaatnya. Ketika ketiganya berjalan seirama, waktu tidak lagi terasa sempit, karena setiap langkah saling menghidupkan," tambahnya
Di tengah padatnya aktivitas pengajaran, riset, dan pengabdian, guru besar baru ini tetap menjaga kebugaran jasmani dan rohaninya melalui rutinitas harian. Prof. Iskandar membagikan kebiasaan sehatnya yang terbukti ampuh mengusir kepenatan berpikir. "Cara saya menyegarkan pikiran sederhana: bersepeda ke kampus dan berjalan kaki di pagi hari," katanya sembari tersenyum. Sinergi aktivitas fisik mini ini diakuinya berdampak besar bagi ritme kerjanya. "Aktivitas ini membuat tubuh tetap bugar, pikiran lebih jernih, dan hati lebih siap menghadapi berbagai aktivitas," tambahnya.

Meski kini telah sukses berdiri di puncak karier, jalan menuju Guru Besar diakuinya penuh dengan kerikil tajam, terutama saat memenuhi syarat publikasi artikel ilmiah bereputasi internasional. Prof. Iskandar mengisahkan pengalamannya berhadapan dengan kritik tajam para penelaah jurnal global. "Ketika saya mengalami kejenuhan dan kebuntuan dalam hal penelitian, menulis terutama waktu menulis artikel saya sebagai syarat Guru Besar, banyak tantangan yang saya hadapi terutama tulisan itu ketika direviu oleh reviewer, sekali direviu sejuta revisian menerjang," ungkapnya jujur. Namun, mental pantang menyerah menjadi pembeda. "Saya tidak pernah berhenti dan menyerah di situ, tapi mencoba untuk segera melakukan perbaikan tulisan," ujarnya, lagi.

Menutup perbincangan hangat tersebut, Prof. Iskandar menitipkan sebuah pesan bernada filosofis yang selalu menjadi mantra penyemangat pribadinya tatkala didera kebuntuan ide. Sebuah bekal berharga bagi dosen-dosen muda dan mahasiswa di IAIN Parepare untuk terus melahirkan karya nyata bagi bangsa. "Intinya prinsip saya selalu mengingat satu kalimat. Jangan menyerah pada halaman yang kosong, karena setiap karya besar selalu dimulai dari satu kalimat pertama. Dengan sabar, doa, dan ketekunan, kebuntuan akan berubah menjadi penemuan," tutupnya.

Penulis : Irmawati

Editor : Mifda Hilmiyah

di dalam Berita
Dari Kampus untuk Budaya, Sulvinajayanti Dokumentasikan 12 Motif Lipa’ Sabbe Wajo